Apatis Terhadap Perpustakaan
Pertanyaan :
Saya adalah salah seorang tenaga pengelola perpustakaan sekolah. Saya ingin menanyakan bagaimana cara menyadarkan guru maupun pengurus yayasan agar mau memberikan dukungan dan memperhatikan arti penting sebuah perpustakaan bagi kemajuan sekolah. Selama ini para guru maupun pengurus yayasan bersikap apatis terhadap keberadaan dan peran perpustakaan. Mohon saran dan pendapat pengasuh. Sebelum dan sesudahnya, saya mengucapkan terima kasih.
Hakim,
Pengelola perpustakaan sekolah di Tangerang, Jawa Barat
0813107820XX
Jawaban :
Pak Hakim yang terhormat, pertanyaan yang anda ajukan bagaikan sebuah pisau tajam yang langsung menohok salah satu inti permasalahan utama yang menyeret dunia persekolahan kita semakin memble dan kedodoran dari sisi kualitas. Sejujurnya apa yang pak Hakim hadapi itu boleh dikatakan hal yang sudah sangat umum dan merata terjadi di kebanyakan sekolah kita di Indonesia.
Biasanya sekolah baru bergairah menata perpustakaanya bila akan diselenggarakan lomba atau kompetisi antar sekolah. Seusai acara tersebut, perpustakaan sekolah kembali sepi dan terabaikan, semuanya itu terjadi tidak hanya di yayasan swasta seperti sekolah tempat pak Hakim berkarya, tetapi di sekolah-sekolah negeripun tak jauh berbeda. Lalu, sekarang pertanyaannya : mengapa hal itu terjadi ? Menurut hemat kami, semuanya itu terjadi paling-tidak bersumber dari 3 perkara utama di bawah ini :
Sejujurnya, masyarakat kita belum memiliki budaya membaca yang baik, maksud kami belum terbiasa untuk 'menikmati' bacaan yang mencerdaskan. Kebanyakan anggota masyarakat kita masih terbelenggu oleh kebiasaan sebagai penikmat pasif, mereka lebih suka untuk melihat, mendengarkan, dan menikmati segala sesuatunya yang sudah 'matang' tersajikan, mereka enggan bersusah payah berpikir, berlogika secara runut dan benar. Semuanya itu dipandang sebagai kegiatan yang melelahkan dan menyiksa serta tidak sesuai dengan semangat hidup hingar-bingar yang sedang melanda masyarakat kita dewasa ini.
Apatisme para guru tak bisa dilepaskan dari hal yang tercantum pada butir 1 di atas. Pak Hakim para guru adalah anggota sekaligus produk dari masyarakatnya. Dengan demikian bisa kita bayangkan, sesungguhnya betapa kurang bekal yang mereka miliki untuk ditransformasikan kepada para anak didik mereka. Pak Hakim, kebanyakan yayasan pengelola sekolah memang memandang sekolah sebagai 'mesin' industri pendidikan yang diwajibkan mencetak profit sebesar-besarnya semacam itu bisa kita lihat dalam keseharian kita. Celakanya, banyak pula pengurus yayasan yang beranggapan bahwa perpustakaan merupakan pos biaya yang harus diminimalkan.
Berangkat dari ketiga pokok permasalahan tersebut diatas, hal yang bisa kami sarankan adalah :
Pada tahap awal mari kita buat perpustakaan sekolah menjadi sesuatu yang menarik di mata guru maupun pengurus yayasan. Mari kita ikuti gaya dan selera para guru maupun pengurus yayasan. Dalam hal ini, kami melihat ada dua kepentingan yang selama ini dikejar oleh para guru dan yayasan, yaitu coin (uang) dan point (nilai). Para guru mengejar coin dalam rangka meningkatkan kesejahteraan mereka, sedangkan point mereka kejar demi peningkatan karir profesi. Demikian pula bagi yayasan coin akan menggembungkan kocek untuk meningkatkan kapitalisasi industri pendidikan yang dikelolanya.
Sedangkan point diperlukan untuk semakin meningkatkan citra yayasan di mata masyarakat. Oleh sebab itu mari kita jembatani perwujudan keinginan-keinginan mereka itu. Caranya? Mari kita lihat butir saran selanjutnya. Pak hakim bersama dengan kawan-kawan bisa menghubungi penerbit-penerbit raksasa yang butuh memasarkan produk mereka, mereka akan tak segan merogoh kantongnya untuk bertindak sebagai sponsor event-event yang diselenggarakan oleh perpustakaan bapak, misalnya : Bedah Buku, Seminar, Lomba Penulisan, Lomba Tehnologi Tepat Guna, Lomba Pengkajian Buku, Pelatihan Penulisan Buku, Pelatihan Penulisan Buku (Fiksi maupun non-fiksi), dan sebagainya. Kami pikir, seiring dengan semangat Otonomi Sekolah, langkah/terobosan ini akan sangat menjanjikan. Soal tematik event, pak Hakim bisa lihat kalender harian umum kalender akademik.
Bila kegiatan ini dirasa berat, dengan seijin kepala sekolah jalin jaringan kerja dengan sesame pustakawan di sekitar sekolah. Pak Hakim, percayalah bila event-event ini bisa berjalan dan dirasakan manfaatnya baik oleh para guru maupun yayasan, tanpa kita harus beramai-ramai berdemopun para guru dan yayasan akan kita buat manggut-manggut dan berdecak kagum: 'Oh, pustakawan di sekolah kami sungguh cerdik'.
Selamat berjuang pak Hakim, kami tunggu berita kelanjutannya. Salam hormat dan jabat erat, Pengasuh Klinik Pendidikan. ***
--------------------------------------------------------
source: artikel Republika
=====================================
Distance Learning Association
The United States Distance Learning Association (USDLA) is a non-profit association formed in 1987 and is located in Boston, Massachusetts. It promotes the development and application of distance learning for education and training and serves the needs of the distance learning community by providing advocacy, information, networking and opportunity.
It s Board of Directors features academics and officers from some of the best schools in the country including Stanford University, Oklahoma State University, and the University of Texas. They run a number of programs designed to assist and support students and teachers grow and learn in the distance learning environment.
One of their best-known programs is called Educating Everyone and operating under the umbrella of the USDLA it provides direct broadcast educational programs for the Pre K-12, Higher Education, Teacher Professional Development and General Public constituencies. Program offerings include foreign language instruction, teacher training, and other general information using digital satellite transmission technology on a 24 x 7 schedule.
The USDLA is also a great resource for information about distance learning in this country. On their website at http://www.usdla.org you will find information about breakthroughs and firsts in the direct learning world. Like the fact that two students became the first to graduate from Purdue University s veterinary technician direct learning program. Another news item reported that a leading education finance company, Chela Education Financing, has agreed to provide $30,000.00 in scholarships to students who undertake an online degree distance learning program.
The USDLA also has 30 state chapters from Arizona to West Virginia, each of which provide the same resources and support to students and educators involved in distance learning programs within their state jurisdiction. It has a special chapter for the Federal Government District Learning Association and it has plans to expand so that every state in the union will have an active voice to promote distance learning in their area.
One of the most important roles that the USDLA plays is in the monitoring and regulation of distance learning programs throughout the United States. While they do not have the authority to grant or remove accreditation from a school or institution the USDLA does review and accredit distance learning institutions. They focus on evaluating the effectiveness of the distance learning program, evaluating the quality of the institutions themselves, and most importantly providing information on quality assurance of distance learning through its publications and website.
The USDLA is an independent voice that can speak out on concerns raised with them by all partners in the distance learning environment and plays an important role in ensuring that the best quality of education is available to as many people as possible through distance learning programs. ***
----------------------------------------------------
by Jeff Slokum
About the author: This article courtesy of http://www.university-phoe nix.com
Pertanyaan :
Saya adalah salah seorang tenaga pengelola perpustakaan sekolah. Saya ingin menanyakan bagaimana cara menyadarkan guru maupun pengurus yayasan agar mau memberikan dukungan dan memperhatikan arti penting sebuah perpustakaan bagi kemajuan sekolah. Selama ini para guru maupun pengurus yayasan bersikap apatis terhadap keberadaan dan peran perpustakaan. Mohon saran dan pendapat pengasuh. Sebelum dan sesudahnya, saya mengucapkan terima kasih.
Hakim,
Pengelola perpustakaan sekolah di Tangerang, Jawa Barat
0813107820XX
Jawaban :
Pak Hakim yang terhormat, pertanyaan yang anda ajukan bagaikan sebuah pisau tajam yang langsung menohok salah satu inti permasalahan utama yang menyeret dunia persekolahan kita semakin memble dan kedodoran dari sisi kualitas. Sejujurnya apa yang pak Hakim hadapi itu boleh dikatakan hal yang sudah sangat umum dan merata terjadi di kebanyakan sekolah kita di Indonesia.
Biasanya sekolah baru bergairah menata perpustakaanya bila akan diselenggarakan lomba atau kompetisi antar sekolah. Seusai acara tersebut, perpustakaan sekolah kembali sepi dan terabaikan, semuanya itu terjadi tidak hanya di yayasan swasta seperti sekolah tempat pak Hakim berkarya, tetapi di sekolah-sekolah negeripun tak jauh berbeda. Lalu, sekarang pertanyaannya : mengapa hal itu terjadi ? Menurut hemat kami, semuanya itu terjadi paling-tidak bersumber dari 3 perkara utama di bawah ini :
Sejujurnya, masyarakat kita belum memiliki budaya membaca yang baik, maksud kami belum terbiasa untuk 'menikmati' bacaan yang mencerdaskan. Kebanyakan anggota masyarakat kita masih terbelenggu oleh kebiasaan sebagai penikmat pasif, mereka lebih suka untuk melihat, mendengarkan, dan menikmati segala sesuatunya yang sudah 'matang' tersajikan, mereka enggan bersusah payah berpikir, berlogika secara runut dan benar. Semuanya itu dipandang sebagai kegiatan yang melelahkan dan menyiksa serta tidak sesuai dengan semangat hidup hingar-bingar yang sedang melanda masyarakat kita dewasa ini.
Apatisme para guru tak bisa dilepaskan dari hal yang tercantum pada butir 1 di atas. Pak Hakim para guru adalah anggota sekaligus produk dari masyarakatnya. Dengan demikian bisa kita bayangkan, sesungguhnya betapa kurang bekal yang mereka miliki untuk ditransformasikan kepada para anak didik mereka. Pak Hakim, kebanyakan yayasan pengelola sekolah memang memandang sekolah sebagai 'mesin' industri pendidikan yang diwajibkan mencetak profit sebesar-besarnya semacam itu bisa kita lihat dalam keseharian kita. Celakanya, banyak pula pengurus yayasan yang beranggapan bahwa perpustakaan merupakan pos biaya yang harus diminimalkan.
Berangkat dari ketiga pokok permasalahan tersebut diatas, hal yang bisa kami sarankan adalah :
Pada tahap awal mari kita buat perpustakaan sekolah menjadi sesuatu yang menarik di mata guru maupun pengurus yayasan. Mari kita ikuti gaya dan selera para guru maupun pengurus yayasan. Dalam hal ini, kami melihat ada dua kepentingan yang selama ini dikejar oleh para guru dan yayasan, yaitu coin (uang) dan point (nilai). Para guru mengejar coin dalam rangka meningkatkan kesejahteraan mereka, sedangkan point mereka kejar demi peningkatan karir profesi. Demikian pula bagi yayasan coin akan menggembungkan kocek untuk meningkatkan kapitalisasi industri pendidikan yang dikelolanya.
Sedangkan point diperlukan untuk semakin meningkatkan citra yayasan di mata masyarakat. Oleh sebab itu mari kita jembatani perwujudan keinginan-keinginan mereka itu. Caranya? Mari kita lihat butir saran selanjutnya. Pak hakim bersama dengan kawan-kawan bisa menghubungi penerbit-penerbit raksasa yang butuh memasarkan produk mereka, mereka akan tak segan merogoh kantongnya untuk bertindak sebagai sponsor event-event yang diselenggarakan oleh perpustakaan bapak, misalnya : Bedah Buku, Seminar, Lomba Penulisan, Lomba Tehnologi Tepat Guna, Lomba Pengkajian Buku, Pelatihan Penulisan Buku, Pelatihan Penulisan Buku (Fiksi maupun non-fiksi), dan sebagainya. Kami pikir, seiring dengan semangat Otonomi Sekolah, langkah/terobosan ini akan sangat menjanjikan. Soal tematik event, pak Hakim bisa lihat kalender harian umum kalender akademik.
Bila kegiatan ini dirasa berat, dengan seijin kepala sekolah jalin jaringan kerja dengan sesame pustakawan di sekitar sekolah. Pak Hakim, percayalah bila event-event ini bisa berjalan dan dirasakan manfaatnya baik oleh para guru maupun yayasan, tanpa kita harus beramai-ramai berdemopun para guru dan yayasan akan kita buat manggut-manggut dan berdecak kagum: 'Oh, pustakawan di sekolah kami sungguh cerdik'.
Selamat berjuang pak Hakim, kami tunggu berita kelanjutannya. Salam hormat dan jabat erat, Pengasuh Klinik Pendidikan. ***
--------------------------------------------------------
source: artikel Republika
=====================================
Distance Learning Association
The United States Distance Learning Association (USDLA) is a non-profit association formed in 1987 and is located in Boston, Massachusetts. It promotes the development and application of distance learning for education and training and serves the needs of the distance learning community by providing advocacy, information, networking and opportunity.
It s Board of Directors features academics and officers from some of the best schools in the country including Stanford University, Oklahoma State University, and the University of Texas. They run a number of programs designed to assist and support students and teachers grow and learn in the distance learning environment.
One of their best-known programs is called Educating Everyone and operating under the umbrella of the USDLA it provides direct broadcast educational programs for the Pre K-12, Higher Education, Teacher Professional Development and General Public constituencies. Program offerings include foreign language instruction, teacher training, and other general information using digital satellite transmission technology on a 24 x 7 schedule.
The USDLA is also a great resource for information about distance learning in this country. On their website at http://www.usdla.org you will find information about breakthroughs and firsts in the direct learning world. Like the fact that two students became the first to graduate from Purdue University s veterinary technician direct learning program. Another news item reported that a leading education finance company, Chela Education Financing, has agreed to provide $30,000.00 in scholarships to students who undertake an online degree distance learning program.
The USDLA also has 30 state chapters from Arizona to West Virginia, each of which provide the same resources and support to students and educators involved in distance learning programs within their state jurisdiction. It has a special chapter for the Federal Government District Learning Association and it has plans to expand so that every state in the union will have an active voice to promote distance learning in their area.
One of the most important roles that the USDLA plays is in the monitoring and regulation of distance learning programs throughout the United States. While they do not have the authority to grant or remove accreditation from a school or institution the USDLA does review and accredit distance learning institutions. They focus on evaluating the effectiveness of the distance learning program, evaluating the quality of the institutions themselves, and most importantly providing information on quality assurance of distance learning through its publications and website.
The USDLA is an independent voice that can speak out on concerns raised with them by all partners in the distance learning environment and plays an important role in ensuring that the best quality of education is available to as many people as possible through distance learning programs. ***
----------------------------------------------------
by Jeff Slokum
About the author: This article courtesy of http://www.university-phoe nix.com
Jangan Lupa Share Artikel Ini Ya...?
Bagikan artikel ini ke temanmu melalui "SosMed" kamu di bawah ini:
Bagikan artikel ini ke temanmu melalui "SosMed" kamu di bawah ini:



Jobs and Careers



Comments :
0 komentar to “Apatis Terhadap Perpustakaan”
Post a Comment
>>
Setiap komentar yang Anda berikan sangat kami hargai. Terlebih komentar yang bersifat membangun dan bermanfaat bagi pembaca yang lain. Setiap komentar yang masuk akan kami lihat terlebih dahulu sebelum ditayangkan untuk menjaga komentar yang bersifat SPAM, cabul, promosi link / produk atau segala hal yang bersifat fitnah dan tidak sesuai dengan misi situs ini.
Silahkan tulis komentar Anda pada kolom di bawah ini.
Panjang komentar tidak dibatasi. Komentar bisa berisi pendapat, pengalaman pribadi, opini publik dan sebagainya.
Terima kasih sebelumnya atas komentar yang Anda berikan. :)
.