Dilema Wanita Karir
Berikut ini sejumlah situasi yang kerap terjadi di tempat kerja, sekaligus tips mengatasinya.
1. Jam Kerja Ketat
Anda memerlukan jam kerja fleksibel agar dapat merawat anak-anak bila mereka sakit, tetapi atasan sangat kaku dan menuntut Anda harus tetap berada di kantor pada saat jam kerja. Anda perlu mengantisipasi apa yang akan dilakukan bila anak sakit karena hal ini pasti bakal terjadi.
Tentukan batasan-batasan, kapan akan tinggal di rumah dan kapan merasa cukup nyaman untuk ke kantor, meninggalkan anak dengan pengasuhnya. Misalnya bila anak demam atau panas tinggi, Anda tidak akan ke kantor, sementara jika si kecil hanya sakit perut biasa, Anda tetap ke kantor sambil terus memantau perkembangannya. Perjelas dari awal dengan atasan mengenai kebutuhan Anda bila sewaktu-waktu harus izin karena tidak ada yang menjaga anak. Anda sendiri pun harus bersikap tegas terhadap diri sendiri agar tidak memiliki konflik mengenai keputusan yang diambil bila harus meninggalkan anak dengan pengasuhnya.
2. Merasa Bersalah
Anda menyukai pekerjaan yang kini ditekuni dan dengan bekerja memperoleh kepuasan serta ingin mengabdikan diri pada pekerjaan tapi merasa bersalah karena tidak dapat memberikan perhatian penuh pada anak-anak.
Bila merasa bersalah karena mencintai pekerjaan lebih daripada berada di rumah, sebetulnya Anda tidak sendirian. Banyak sekali wanita yang berusaha melawan perasaannya, memilih antara pekerjaan dan rumah tangga. Penelitian menunjukkan, orangtua yang bekerja tidaklah membahayakan anak-anaknya. Pada kenyataannya, anak-anak yang memiliki orangtua yang bekerja, tumbuh dengan baik dan memperlihatkan pencapaian kognitif luar biasa.
Cobalah untuk mencari jalan keluar dengan atasan mengenai jam kerja Anda. Siapa tahu Anda dapat bekerja tiga atau empat hari dalam seminggu sampai mendapatkan keseimbangan dalam pekerjaan dan rumah tangga sehingga Anda sungguh-sungguh merasa nyaman melakukannya.
3. Tak Mendapatkan Promosi
Sebelum membicarakan masalah ini dengan atasan, sisihkan sedikit waktu untuk merenungkan kasus Anda. Jujurlah terhadap diri sendiri, apakah Anda memang bersungguh-sungguh dengan pekerjaan? Apakah menurut Anda memang cukup adil bila Anda tidak dipromosikan? Masalahnya, kadang-kadang tidak dipromosikan merupakan hal yang masuk akal.
4. Bila merasa telah diperlakukan tidak adil, buktikan dan cari waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan tenang pada atasan mengenai keputusan yang diambilnya dan apa yang dapat Anda lakukan untuk memperbaiki diri, termasuk melakukan perubahan-perubahan di masa mendatang.
5. Mengatasi Konflik
Anda dapat menjumpai berbagai ragam konflik kepribadian di tempat kerja. Bila berhadapan dengan rekan sekerja yang memiliki karakter aneh, hindari keinginan Anda untuk bertengkar dengannya. Ikuti pepatah kuno, "Perlakukanlah orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan". Atasan akan menghargai kedewasaan dan kemampuan Anda dalam bekerja, serta menghargai sikap Anda yang tidak meladeni rekan sekerja yang bersikap aneh.
6. Tak Cocok dengan Atasan
Jika atasan berkarakter aneh, mulailah berpikir untuk pindah kerja. Sangat sulit bila konflik yang Anda hadapi justru dengan atasan. Bila merasa nyaman untuk membicarakan permasalahan yang diadakan dengan atasan, boleh saja Anda coba.
Bila tidak ada harapan, minta pada atasan untuk memindahkan Anda ke departemen lain. Bila tidak ada jalan lain, mungkin sudah saatnya untuk pindah kerja. Dan penting bagi Anda untuk menimbang-nimbang sisi positif dan sisi negatifnya. Pertimbangkan bagaimana pentingnya rasa aman bagi Anda, apa saja alternatifnya, serta bagaimana risiko dan dampak keuangan bila Anda pindah.***
---------------------------------------
Source: Artikel Kompas
=========================================
Hooked On Chaos
You may have a drug problem. Many people today are hooked on a commonly abused, yet elusive drug whose widespread use seems to be flying under our radar. That drug of choice is adrenaline. The classic symptoms? Saying "Yes" when you mean "No." Overcommiting or overbooking your schedule, then finding it difficult to deliver on deadlines or complete tasks. Procrastinating until the last moment. Believing you, "Work best under pressure." Being easily distracted.
Consider that an adrenaline addiction may be creating many of the problems, employee challenges and obstacles to a sale that you want to avoid. Tolerating stress, chaos, disorganization, poor planning, lackluster team performance or undesirable customers create situations that provide the adrenaline rush associated when working on overdrive. Like any drug, adrenaline has its rewards. On the surface, it may appear that this legal, seductive drug provides a burst of energy to get something done, tackle a project or meet a deadline. Being superhuman enables you to accomplish more than what a mere mortal is capable of producing.
However, it's more dangerous than we realize. The body produces adrenaline when stressed, in pain or to protect us from imminent danger. While used to handle a crisis, you don't want the drug to control you and dominate your lifestyle. After a day of riding the adrenaline roller coaster, you crash. Too much adrenaline from other sources (nicotine, chocolate, caffeine, etc.) can also lead to stomach and heart problems, high blood pressure and anxiety.
Aside from feeling drained, burnt out and exhausted, adrenaline lowers your productivity level and sets you up for failure. If you thrive on chaos, it's difficult to maintain your focus, concentration, peace of mind or mental clarity. If you're a salesperson, a congested mind does not allow for the space to create the best solutions for your customers during a sales call.
If you're overwhelmed with a pile of tasks, then you can't be "present" with or listening to your customers. This affects your ability to follow a sales process, ask the right questions, uncover your customer's needs and even create or recognize a selling opportunity, creating holes in your selling approach that many promising sales fall through. To kick the habit, prevent sporadic results and get off the adrenaline train, shift away from using adrenaline and start creating the momentum that produces consistent, long lasting results.
1. Just Say No. Are you a "Yesaholic?" Do you instinctively say, "Yes" first without considering if you can realistically deliver? The irony is, saying "Yes" and not following through creates what we wanted to avoid.
That is, letting others down by over committing and not delivering, costing you frustration, happy employees, new or future business, a satisfied customer, even referrals. Before you respond with a start/delivery date on a project or proposal, ask yourself, "Is this something I want to be doing?" "Do I have the time for it and if so, when?" In other words, "Are there activities that I've already committed to that take priority?" I'm sure your family would appreciate (be shocked?) if you made it home for dinner.
2. Develop A Healthy Relationship With Time - Underpromise.
Adrenaline junkies often force the end result into an unrealistic timeframe. Instead, increase (even double) the timeline you've allocated for each task by considering the worst-case scenario. This provides a buffer of time when completing tasks even if you experience some bumps along the way. One client said, "If I add 50% to each activity timeline, my day would end at midnight rather than 5pm!" Herein lies the greatest lesson. You're overcommiting!
3. Do Complete Work.
"I've always been a great self- starter but not a good finisher." Sound familiar? Keeping incomplete projects alive becomes another source of adrenaline. Instead of continually stopping and starting something new, commit to seeing each task through to completion before taking on the next one. Once you've cleared out some space as a result of completing one task, you can add another in its place.
Like kicking any drug habit you'll experience withdrawals, so take the time to get ahead of the curve and catch up on all of the overcommitments you've already made. You'll reduce your stress level, experience more peace and calmness, create more time, become incredibly productive and enjoy a healthier energy source.
You'll then be able to choose to redesign your life and career the way you really want. Take it from a recovered adrenaline junkie. ***
------------------------------------------
by Keith Rosen MCC
Berikut ini sejumlah situasi yang kerap terjadi di tempat kerja, sekaligus tips mengatasinya.
1. Jam Kerja Ketat
Anda memerlukan jam kerja fleksibel agar dapat merawat anak-anak bila mereka sakit, tetapi atasan sangat kaku dan menuntut Anda harus tetap berada di kantor pada saat jam kerja. Anda perlu mengantisipasi apa yang akan dilakukan bila anak sakit karena hal ini pasti bakal terjadi.
Tentukan batasan-batasan, kapan akan tinggal di rumah dan kapan merasa cukup nyaman untuk ke kantor, meninggalkan anak dengan pengasuhnya. Misalnya bila anak demam atau panas tinggi, Anda tidak akan ke kantor, sementara jika si kecil hanya sakit perut biasa, Anda tetap ke kantor sambil terus memantau perkembangannya. Perjelas dari awal dengan atasan mengenai kebutuhan Anda bila sewaktu-waktu harus izin karena tidak ada yang menjaga anak. Anda sendiri pun harus bersikap tegas terhadap diri sendiri agar tidak memiliki konflik mengenai keputusan yang diambil bila harus meninggalkan anak dengan pengasuhnya.
2. Merasa Bersalah
Anda menyukai pekerjaan yang kini ditekuni dan dengan bekerja memperoleh kepuasan serta ingin mengabdikan diri pada pekerjaan tapi merasa bersalah karena tidak dapat memberikan perhatian penuh pada anak-anak.
Bila merasa bersalah karena mencintai pekerjaan lebih daripada berada di rumah, sebetulnya Anda tidak sendirian. Banyak sekali wanita yang berusaha melawan perasaannya, memilih antara pekerjaan dan rumah tangga. Penelitian menunjukkan, orangtua yang bekerja tidaklah membahayakan anak-anaknya. Pada kenyataannya, anak-anak yang memiliki orangtua yang bekerja, tumbuh dengan baik dan memperlihatkan pencapaian kognitif luar biasa.
Cobalah untuk mencari jalan keluar dengan atasan mengenai jam kerja Anda. Siapa tahu Anda dapat bekerja tiga atau empat hari dalam seminggu sampai mendapatkan keseimbangan dalam pekerjaan dan rumah tangga sehingga Anda sungguh-sungguh merasa nyaman melakukannya.
3. Tak Mendapatkan Promosi
Sebelum membicarakan masalah ini dengan atasan, sisihkan sedikit waktu untuk merenungkan kasus Anda. Jujurlah terhadap diri sendiri, apakah Anda memang bersungguh-sungguh dengan pekerjaan? Apakah menurut Anda memang cukup adil bila Anda tidak dipromosikan? Masalahnya, kadang-kadang tidak dipromosikan merupakan hal yang masuk akal.
4. Bila merasa telah diperlakukan tidak adil, buktikan dan cari waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan tenang pada atasan mengenai keputusan yang diambilnya dan apa yang dapat Anda lakukan untuk memperbaiki diri, termasuk melakukan perubahan-perubahan di masa mendatang.
5. Mengatasi Konflik
Anda dapat menjumpai berbagai ragam konflik kepribadian di tempat kerja. Bila berhadapan dengan rekan sekerja yang memiliki karakter aneh, hindari keinginan Anda untuk bertengkar dengannya. Ikuti pepatah kuno, "Perlakukanlah orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan". Atasan akan menghargai kedewasaan dan kemampuan Anda dalam bekerja, serta menghargai sikap Anda yang tidak meladeni rekan sekerja yang bersikap aneh.
6. Tak Cocok dengan Atasan
Jika atasan berkarakter aneh, mulailah berpikir untuk pindah kerja. Sangat sulit bila konflik yang Anda hadapi justru dengan atasan. Bila merasa nyaman untuk membicarakan permasalahan yang diadakan dengan atasan, boleh saja Anda coba.
Bila tidak ada harapan, minta pada atasan untuk memindahkan Anda ke departemen lain. Bila tidak ada jalan lain, mungkin sudah saatnya untuk pindah kerja. Dan penting bagi Anda untuk menimbang-nimbang sisi positif dan sisi negatifnya. Pertimbangkan bagaimana pentingnya rasa aman bagi Anda, apa saja alternatifnya, serta bagaimana risiko dan dampak keuangan bila Anda pindah.***
---------------------------------------
Source: Artikel Kompas
=========================================
Hooked On Chaos
You may have a drug problem. Many people today are hooked on a commonly abused, yet elusive drug whose widespread use seems to be flying under our radar. That drug of choice is adrenaline. The classic symptoms? Saying "Yes" when you mean "No." Overcommiting or overbooking your schedule, then finding it difficult to deliver on deadlines or complete tasks. Procrastinating until the last moment. Believing you, "Work best under pressure." Being easily distracted.
Consider that an adrenaline addiction may be creating many of the problems, employee challenges and obstacles to a sale that you want to avoid. Tolerating stress, chaos, disorganization, poor planning, lackluster team performance or undesirable customers create situations that provide the adrenaline rush associated when working on overdrive. Like any drug, adrenaline has its rewards. On the surface, it may appear that this legal, seductive drug provides a burst of energy to get something done, tackle a project or meet a deadline. Being superhuman enables you to accomplish more than what a mere mortal is capable of producing.
However, it's more dangerous than we realize. The body produces adrenaline when stressed, in pain or to protect us from imminent danger. While used to handle a crisis, you don't want the drug to control you and dominate your lifestyle. After a day of riding the adrenaline roller coaster, you crash. Too much adrenaline from other sources (nicotine, chocolate, caffeine, etc.) can also lead to stomach and heart problems, high blood pressure and anxiety.
Aside from feeling drained, burnt out and exhausted, adrenaline lowers your productivity level and sets you up for failure. If you thrive on chaos, it's difficult to maintain your focus, concentration, peace of mind or mental clarity. If you're a salesperson, a congested mind does not allow for the space to create the best solutions for your customers during a sales call.
If you're overwhelmed with a pile of tasks, then you can't be "present" with or listening to your customers. This affects your ability to follow a sales process, ask the right questions, uncover your customer's needs and even create or recognize a selling opportunity, creating holes in your selling approach that many promising sales fall through. To kick the habit, prevent sporadic results and get off the adrenaline train, shift away from using adrenaline and start creating the momentum that produces consistent, long lasting results.
1. Just Say No. Are you a "Yesaholic?" Do you instinctively say, "Yes" first without considering if you can realistically deliver? The irony is, saying "Yes" and not following through creates what we wanted to avoid.
That is, letting others down by over committing and not delivering, costing you frustration, happy employees, new or future business, a satisfied customer, even referrals. Before you respond with a start/delivery date on a project or proposal, ask yourself, "Is this something I want to be doing?" "Do I have the time for it and if so, when?" In other words, "Are there activities that I've already committed to that take priority?" I'm sure your family would appreciate (be shocked?) if you made it home for dinner.
2. Develop A Healthy Relationship With Time - Underpromise.
Adrenaline junkies often force the end result into an unrealistic timeframe. Instead, increase (even double) the timeline you've allocated for each task by considering the worst-case scenario. This provides a buffer of time when completing tasks even if you experience some bumps along the way. One client said, "If I add 50% to each activity timeline, my day would end at midnight rather than 5pm!" Herein lies the greatest lesson. You're overcommiting!
3. Do Complete Work.
"I've always been a great self- starter but not a good finisher." Sound familiar? Keeping incomplete projects alive becomes another source of adrenaline. Instead of continually stopping and starting something new, commit to seeing each task through to completion before taking on the next one. Once you've cleared out some space as a result of completing one task, you can add another in its place.
Like kicking any drug habit you'll experience withdrawals, so take the time to get ahead of the curve and catch up on all of the overcommitments you've already made. You'll reduce your stress level, experience more peace and calmness, create more time, become incredibly productive and enjoy a healthier energy source.
You'll then be able to choose to redesign your life and career the way you really want. Take it from a recovered adrenaline junkie. ***
------------------------------------------
by Keith Rosen MCC
Jangan Lupa Share Artikel Ini Ya...?
Bagikan artikel ini ke temanmu melalui "SosMed" kamu di bawah ini:
Bagikan artikel ini ke temanmu melalui "SosMed" kamu di bawah ini:



Jobs and Careers



Comments :
0 komentar to “Dilema Wanita Karir”
Post a Comment
>>
Setiap komentar yang Anda berikan sangat kami hargai. Terlebih komentar yang bersifat membangun dan bermanfaat bagi pembaca yang lain. Setiap komentar yang masuk akan kami lihat terlebih dahulu sebelum ditayangkan untuk menjaga komentar yang bersifat SPAM, cabul, promosi link / produk atau segala hal yang bersifat fitnah dan tidak sesuai dengan misi situs ini.
Silahkan tulis komentar Anda pada kolom di bawah ini.
Panjang komentar tidak dibatasi. Komentar bisa berisi pendapat, pengalaman pribadi, opini publik dan sebagainya.
Terima kasih sebelumnya atas komentar yang Anda berikan. :)
.